
5 Sindiran Tajam Jadon Sancho kepada MU. Jadon Sancho, yang kini bersinar sebagai pemain sayap di Chelsea, kembali menjadi bahan perbincangan bukan hanya karena aksinya di lapangan, melainkan juga karena pernyataannya yang tajam terhadap mantan klubnya, Manchester United (MU). Sejak berpisah dengan Old Trafford pada awal 2024, Sancho tampak bertekad meninggalkan bayang-bayang masa lalunya. Berikut lima momen yang menegaskan bahwa hubungan antara Sancho dan MU telah benar-benar terputus:
-
Dukungan Terbuka untuk Marcus Rashford
Ketika MU memutuskan untuk membatasi peran Marcus Rashford pada Desember 2024 akibat isu disiplin, Sancho segera menanggapi melalui akun Twitter-nya. Mengutip kata-kata mantan pemain Arsenal, Ian Wright, Sancho menyampaikan bahwa setiap pemain pasti mengalami masa sulit dan yang terpenting adalah dukungan, bukan pengucilan. Tanggapan ini tidak hanya menunjukkan solidaritas kepada Rashford, tetapi juga menyindir pendekatan MU yang dianggap menghambat perkembangan pemain muda—suatu pengalaman yang pernah ia rasakan sendiri di bawah Erik ten Hag. -
Apresiasi Saat Rashford Pindah ke Aston Villa
Langkah Rashford bergabung dengan Aston Villa pada Januari 2025 langsung mendapatkan respon dari Sancho. Dalam kolom komentar di Instagram yang menampilkan debut Rashford, Sancho menuliskan “Freedom! 🔥”. Ungkapan tersebut diartikan sebagai sindiran halus bahwa lingkungan di MU mungkin telah mengekang kreativitasnya, berbeda dengan suasana yang lebih membebaskan di klub barunya. Komentar ini dengan cepat menjadi viral, memicu perdebatan di kalangan penggemar tentang bagaimana MU mengelola talenta muda. -
Sindiran Mengenai Status Pemain Cadangan
Dalam sebuah rekaman dari akun TikTok resmi Chelsea, Sancho menghadapi pertanyaan mengenai apa yang menurutnya merupakan “posisi paling mudah dalam sepak bola”. Dengan senyum sinis, ia menjawab, “Menjadi pemain cadangan.” Jawaban tersebut dianggap sebagai komentar pedas yang mengingatkan pada masa-masa ketika ia kerap hanya dijadikan penonton di bangku cadangan selama berada di MU. Statistik mendukung sindirannya: selama 18 bulan di MU, Sancho hanya memulai 12 pertandingan, sementara di Chelsea ia telah menunjukkan performa impresif dengan 5 gol dan 3 assist dalam 10 pertandingan. -
Menghapus Jejak Masa Lalu di MU
Tak lama setelah bergabung dengan Chelsea, Sancho terlihat menghapus semua konten yang berkaitan dengan MU dari akun media sosialnya. Mulai dari unggahan pertamanya pada tahun 2021 yang penuh antusiasme tentang bergabung dengan MU, semua jejak itu dihapus secara diam-diam. Tindakan ini diibaratkan sebagai sebuah perpisahan total, menandakan keinginannya untuk menutup lembaran lama, meskipun sebagian penggemar menganggapnya kurang profesional. -
Kebangkitan Karier di Chelsea
Di sisi lain, Sancho dengan tegas menyatakan bahwa di Chelsea ia menemukan tempat di mana dirinya dihargai. Dalam sebuah wawancara dengan Sky Sports, ia mengungkapkan bahwa sejak hari pertama di Stamford Bridge, kepercayaan penuh diberikan oleh pelatih dan rekan setimnya. Performa yang semakin mengesankan—dengan 9 gol langsung dari 15 pertandingan dan aktivasi klausul wajib beli senilai £45 juta di akhir musim—menunjukkan bahwa keputusan untuk bergabung dengan Chelsea adalah langkah tepat dalam mengembalikan kepercayaan diri dan potensinya.
Kesimpulan: Luka Lama yang Masih Membekas
Walaupun Sancho kini tampak menemukan pijakan baru di Chelsea, sikapnya terhadap MU tetap menyisakan tanda tanya. Apakah ini merupakan ungkapan kekecewaan pribadi atau kritik terhadap sistem yang pernah menghambat perkembangan pemain muda? Yang pasti, setiap pernyataannya mengingatkan dunia sepak bola bahwa dukungan dan kepercayaan adalah elemen penting untuk menumbuhkan talenta. Bagi Sancho, Chelsea telah menjadi panggung baru untuk menulis sejarah, sementara bagi MU, kepergian salah satu bintang potensial ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya mendukung karier pemain secara optimal.