Krisis di Manchester United

Krisis di Manchester United
Krisis di Manchester United

Krisis di Manchester United. Manchester United sedang berada dalam periode sulit sejak dilatih oleh Ruben Amorim. Pelatih asal Portugal ini diharapkan bisa membawa perubahan positif setelah menggantikan Erik ten Hag pada November 2024, tetapi performa tim justru menurun drastis.

Kekalahan terbaru 0-1 dari Tottenham Hotspur pada pekan ke-25 Premier League 2024/2025 semakin memperburuk keadaan. Gol tunggal James Maddison pada menit ke-13 menambah rentetan hasil buruk yang membuat MU kini tercecer di peringkat 15 dengan hanya mengoleksi 29 poin dari 25 pertandingan.

Dalam situasi ini, banyak yang mulai mempertanyakan apakah Amorim masih memiliki kendali atas tim, atau justru semakin kehilangan kepercayaan dari para pemainnya.

Ruang Ganti Mulai Kehilangan Kepercayaan

Salah satu tanda terbesar dari krisis di Manchester United adalah munculnya keraguan di dalam ruang ganti terhadap kepemimpinan Ruben Amorim. Menurut laporan dari Chris Wheeler (MailOnline), sejumlah pemain tidak sepenuhnya yakin dengan strategi yang diterapkan oleh sang pelatih.

“Ada perasaan bahwa beberapa kemenangan yang diraih lebih karena kemampuan individu para pemain, bukan karena strategi yang disusun oleh pelatih,” ungkap salah satu sumber internal klub.

Hal ini tentu menjadi sinyal buruk, mengingat soliditas dalam ruang ganti sangat penting untuk membangun tim yang kompetitif. Jika para pemain tidak percaya pada pendekatan taktik yang digunakan, maka sangat sulit bagi tim untuk keluar dari keterpurukan.

Statistik Buruk: Alarm bagi Amorim

Sejak diangkat sebagai manajer, Ruben Amorim telah memimpin MU dalam 14 pertandingan Premier League. Hasilnya cukup mengecewakan dengan delapan kekalahan yang membuat tim semakin terpuruk.

Beberapa kekalahan yang memperlihatkan kelemahan MU di bawah Amorim:

  • Arsenal 3-1 MU (5 Desember 2024) – Kekalahan yang memperlihatkan lemahnya pertahanan dan lini tengah MU.
  • MU 1-2 Aston Villa (26 Desember 2024) – Kekalahan di Old Trafford yang membuat pendukung kecewa.
  • Tottenham 1-0 MU (16 Februari 2025) – Hasil yang menegaskan kurangnya efektivitas strategi Amorim.

Jika performa buruk ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin MU akan menghadapi musim paling suram dalam beberapa dekade terakhir.

Kritik Tajam dari Legenda MU

Beberapa legenda Manchester United pun ikut mengomentari situasi ini, termasuk Gary Neville yang mengkritik keras taktik Amorim. Menurut Neville, pendekatan Amorim terlalu naif dan tidak cocok untuk Premier League.

“Taktik lini tengah yang diterapkannya tidak memiliki keseimbangan. Terlalu banyak celah yang membuat lawan dengan mudah mengeksploitasi kelemahan MU,” ujar Neville dalam analisisnya di Sky Sports.

Sementara itu, Roy Keane juga menyoroti kurangnya mentalitas juara di dalam tim. “United terlihat tidak memiliki gairah dan semangat untuk bertarung. Jika ini terus berlanjut, mereka akan semakin jauh dari persaingan papan atas,” ujar mantan kapten MU tersebut.

Apa yang Salah dengan Taktik Amorim?

Ruben Amorim dikenal dengan filosofi permainan berbasis penguasaan bola yang ia terapkan di Sporting CP. Namun, sistem ini belum berjalan efektif di MU karena beberapa alasan:

  1. Kurangnya Adaptasi dengan Pemain yang Ada
    Amorim ingin menerapkan formasi 3-4-3 atau 3-5-2, tetapi sebagian besar pemain MU lebih terbiasa dengan skema 4-2-3-1 atau 4-3-3. Hal ini menyebabkan ketidakseimbangan dalam permainan tim.
  2. Pertahanan yang Mudah Ditembus
    MU terlalu sering kebobolan akibat celah di lini belakang yang belum diperbaiki. Perubahan dari sistem empat bek ke tiga bek tengah tampaknya belum memberikan hasil positif.
  3. Minimnya Kreativitas di Lini Tengah
    Pemain seperti Casemiro dan Christian Eriksen mulai kehilangan sentuhan terbaiknya, sementara pemain muda seperti Kobbie Mainoo masih membutuhkan waktu untuk berkembang.
  4. Striker yang Tidak Konsisten
    Rasmus Højlund belum mampu tampil konsisten sebagai ujung tombak, sementara Antony dan Marcus Rashford juga belum memberikan kontribusi maksimal.

Krisis Keuangan: Hambatan dalam Bursa Transfer

Selain masalah di lapangan, MU juga menghadapi kendala finansial yang membatasi pergerakan mereka di bursa transfer. Pada Januari lalu, MU hanya mampu mendatangkan Patrick Dorgu, bek kiri asal Denmark, yang belum tentu bisa langsung memberikan dampak signifikan.

Untuk bisa membeli pemain baru di musim panas nanti, MU harus menjual beberapa pemain bergaji tinggi, seperti Casemiro dan Antony. Bahkan, Marcus Rashford dikabarkan juga bisa masuk daftar jual jika tidak menunjukkan peningkatan performa.

Namun, menjual pemain kunci tentu memiliki risiko besar, terutama jika MU tidak dapat menemukan pengganti yang tepat.

Apakah Amorim Akan Dipecat?

Meskipun berada dalam tekanan besar, Ruben Amorim menegaskan bahwa ia tetap percaya dengan sistem yang ia terapkan.

“Saya yakin dengan filosofi saya. Perubahan membutuhkan waktu, dan kami harus tetap fokus pada proses pembangunan tim,” ujar Amorim dalam konferensi pers setelah kekalahan dari Tottenham.

Namun, dunia sepak bola modern tidak memiliki banyak kesabaran. Jika MU tidak segera menunjukkan peningkatan dalam beberapa laga ke depan, manajemen klub mungkin akan mempertimbangkan untuk mencari pelatih baru.

Sejumlah nama telah dikaitkan dengan MU jika Amorim gagal bertahan:

  • Zinedine Zidane – Mantan pelatih Real Madrid dengan tiga trofi Liga Champions.
  • Roberto De Zerbi – Pelatih Brighton dengan filosofi menyerang yang menarik.
  • Julian Nagelsmann – Pelatih muda Jerman dengan pendekatan taktik yang modern.

Kesimpulan: Masa Depan Amorim di Ujung Tanduk

Manchester United tengah berada dalam krisis, dan posisi Ruben Amorim sebagai pelatih semakin tidak aman. Jika hasil buruk terus berlanjut, kemungkinan besar MU akan segera melakukan perubahan di kursi kepelatihan.

Dengan Premier League yang semakin kompetitif, MU tidak bisa terus kehilangan poin. Jika Amorim tidak mampu membalikkan keadaan, bukan tidak mungkin Old Trafford akan segera menyaksikan pergantian pelatih lagi.

Akankah Amorim mampu bertahan dan membuktikan diri? Atau justru menjadi pelatih berikutnya yang gagal di Old Trafford? Jawabannya akan segera terungkap dalam beberapa pekan ke depan.

 

Gulir ke Atas