Akankah Qatar Akhirnya Menguasai Manchester United?

Akankah Qatar Akhirnya Menguasai Manchester United? Dalam twist dramatis dari drama kepemilikan Manchester United yang berkepanjangan, miliarder Qatar Sheikh Jassim bin Hamad Al Thani tetap teguh pada ambisinya untuk membeli klub legendaris ini, meski ditolak berkali-kali oleh keluarga Glazer. Di tengah tekanan yang meningkat pada pemilik saat ini akibat musim yang kembali bergolak, rumor tawaran baru dari Sheikh Jassim menghidupkan kembali harapan—dan skeptisisme—di kalangan suporter. Artikel ini mengupas perkembangan terbaru, gesekan historis antara Glazer dan fans, serta apakah ketekunan Sheikh Jassim akhirnya bisa mengubah masa depan Setan Merah.
Era Kontroversial Glazers: Warisan Ketidakpuasan
Sejak pengambilalihan dengan utang pada 2005, keluarga Glazer menjadi sasaran kritik. Mereka membeli Manchester United dengan pinjaman besar, membebani klub dengan cicilan yang kini melebihi £1 miliar. Meski sukses secara komersial, fans menuduh Glazer mengabaikan investasi di fasilitas, transfer pemain, dan pembaruan stadion, membuat United tertinggal dari rival seperti Manchester City dan Liverpool.
Protes menjadi pemandangan biasa di Old Trafford, dengan suporter menuduh Glazer mengutamakan keuntungan di atas trofi. Skandal Liga Super Eropa 2021 semakin merusak kepercayaan, memperkuat citra keluarga ini sebagai pemilik yang tidak disukai. Meski Avram Glazer baru-baru ini membantah rencana penjualan penuh, pintu untuk investasi parsial tetap terbuka—strategi yang justru memicu kekecewaan.
Perang Penawaran 2023: Jassim vs. Ratcliffe
Tahun lalu, Sheikh Jassim dan miliarder Inggris Sir Jim Ratcliffe muncul sebagai kandidat utama akuisisi. Jassim, ketua Qatar Islamic Bank dan putra mantan perdana menteri Qatar, mengajukan tawaran fantastis senilai £4,79 miliar melalui Nine Two Foundation, berjanji melunasi utang United dan menyuntikkan dana segar untuk infrastruktur. Visinya? Pengambilalihan 100% untuk memutus semua hubungan dengan Glazer.
Ratcliffe, pendiri raksasa kimia INEOS, mengambil pendekatan berbeda. Tawarannya mengamankan 27,7% saham minoritas, memungkinkan Glazer tetap memegang kendali sambil menyerahkan operasional sepak bola kepada INEOS. Bagi banyak fans, “setengah hati” ini dianggap sebagai kesempatan yang terbuang untuk mengusir Glazer sepenuhnya.
Mengapa Tawaran Sheikh Jassim Gagal?
Meski berkomitmen penuh, Sheikh Jassim mundur dari negosiasi pada Oktober 2023. Laporan menyebut Glazer menilai valuasinya terlalu rendah, meminta harga mendekati £6 miliar—angka yang dianggap tidak realistis mengingat kinerja buruk United. Spekulasi lain menyebut keluarga ini tidak serius menjual, lebih memilih model minoritas Ratcliffe untuk tetap mengontrol dividen.
Keinginan Jassim untuk pemisahan total juga berbenturan dengan strategi bertahap Glazer. Berbeda dengan Ratcliffe yang menuruti permintaan mereka, Sheikh Jassim menolak berkompromi dan akhirnya memilih mundur.
Kinerja Buruk MU di Bawah INEOS: Pemicu Perubahan?
Akuisisi parsial Ratcliffe sempat membawa optimisme, tetapi hasilnya suram. Hingga Februari 2025, United terpuruk di tengah klasemen, dengan manajer Erik ten Hag dikecam dan pemain bintang underperform. “Pembangunan ulang” yang dijanjikan INEOS belum terwujud, dan fans mulai kehilangan kesabaran.
Kemunduran ini menghidupkan kembali spekulasi minat Sheikh Jassim. Menurut The Mail, bangsawan Qatar ini tetap “terbuka untuk negosiasi” dan terus memantau situasi klub. Dengan valuasi Glazer yang mungkin turun akibat hasil buruk, akankah keluarga ini mempertimbangkan penjualan penuh?
Tujuan Sheikh Jassim: Apa yang Mendrive Usahanya?
Bagi Sheikh Jassim, membeli Manchester United bukan sekadar bisnis—ini urusan hati. Sebagai fans sejak 1992, ia melihat klub sebagai institusi budaya dan berjanji mengembalikan kejayaannya tanpa utang. Visinya juga selaras dengan ambisi olahraga Qatar pasca-Piala Dunia 2022 dan kebangkitan Paris Saint-Germain yang didukung Qatar.
Namun, visi ini menghadapi tantangan. Aturan Premier League tentang transaksi pihak terkait bisa membatasi kerja sama komersial dengan entitas Qatar, dan rival mungkin mengkritik sumber dana tawaran ini. Selain itu, keengganan Glazer melepas kendali tetap menjadi hambatan terbesar.
Reaksi Suporter: Harapan, Skeptisisme, dan Loyalitas yang Terbelah
Suporter terpecah. Di satu sisi, banyak yang mendambakan United bebas utang di bawah kepemilikan ambisius. Di sisi lain, mereka khawatir dengan keterlibatan Qatar, menyoroti isu HAM dan label “sportswashing” yang melekat pada PSG. Sementara itu, kinerja Ratcliffe di INEOS juga mengecewakan mereka yang berharap perubahan instan.
“Glazer telah menggerogoti klub ini selama 20 tahun. Sheikh Jassim menawarkan awal baru, tapi kita tak bisa mengabaikan pertanyaan etis,” kata juru bicara Manchester United Supporters’ Trust.
Analisis Ahli: Mungkinkah Akuisisi Qatar Terwujud?
Analis keuangan menyebut kembalinya Sheikh Jassim bergantung pada dua faktor: kesediaan Glazer menjual dan nilai pasar United. Jika performa tak membaik, keluarga ini mungkin memotong kerugian dan menerima tawaran lebih rendah. Namun, dengan kepemilikan saham Ratcliffe yang sudah ada, proses penjualan penuh jadi rumit.
“Peluang terbaik Jassim adalah jika Glazer menghadapi tekanan pemegang saham untuk keluar total,” ujar pakar keuangan sepak bola Kieran Maguire. “Tapi mengingat sejarah mereka, ini kecil kemungkinan kecuali nilai klub anjlok.”
Kesimpulan: Drama yang Belum Usai
Selama kekacauan Manchester United berlanjut, tekad Sheikh Jassim juga tak padam. Sementara Glazer bertahan, keresahan suporter dan kemunduran sportif bisa memaksa mereka bertindak. Untuk saat ini, sang pembeli Qatar menunggu di balik layar, siap menerjang jika situasi memungkinkan. Apakah ini akan berakhir dengan kebangkitan atau penolakan lagi, satu hal pasti: pertarungan untuk jiwa Old Trafford masih jauh dari akhir.